Selasa, 17 Januari 2012

Tes MMPI (Minnesota Multifase Personality Inventory)

MMPI (Minnesota Multifase Personality Inventory) diterbitkan pada tahun 1940 dan versi revisi kedua MMPI-2 diterbitkan pada tahun 1989. Ini adalah tes psikometri yang paling banyak digunakan untuk mengukur psikopatologi dewasa di dunia. The MMPI-2 digunakan untuk mengukur kesehatan mental, medical dan dan preposisi pekerjaan.
Tes MMPI adalah sebuah alat tes inventori yang berisi banyak pertanyaan dengan option ya dan tidak, tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan, Dan sebagainya.
Perancang MMPI adalah R. Starke Hathaway, PhD, dan JC McKinley, MD. MMPI merupakan hak cipta dari University of Minnesota. MMPI dikembangkan pada tahun 1930 di Universitas Minnesota sebagai tes kepribadian yang komprehensif dan serius yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kejiwaan. Direvisi pada tahun 1989 sebagai MMPI-2 dan versi untuk remaja dikembangkan (MMPI-A). Ada juga versi singkat (MMPI-3).
Pengembangan awal MMPI dimulai pada 1939 di Universitas of Minnesota oleh dua orang penulisnya. Mereka menginginkan sebuah instrumen yang dapat berfungsi sebagai alat bantu dalam mengakses pasien-pasien dewasa selama pekerjaan psikiatrik rutin dan yang dapat menentukan dengan kuat tingkat keparahan gangguan mereka. Disamping itu, Hatchway dan McKinley tertarik untuk mengembangkan sebuah estimasi objektif tentang perubahan yang dihasilkan oleh psikoterapi atau dalam variable-variabel lain dalam kehidupan pasien. Pendekatan terpenting selama pengonstruksian MMPI adalah empirical criterion keying. Hal ini mengacu pada pengembangan, pemilihan, dan penskoran beberapa item dalam skala berdasarkan kriteria acuan eksternal tertentu. Sebagai contoh, seorang konstruktor tes mungkin percaya bahwa sebuah item seperti “kadang-kadang saya merasa nyaris mustahil bisa bangun dipagi hari'’ adalah pernyataan yang secara teoritis cukup baik untuk digunakan dalam mengakses depresi. Akan tetapi jika sebuah sempel populasi dari pasien-pasien depresi tidak memberikan respon yang berbeda dibanding kelompok normatif, maka item itu tidak akan dimasukan.
Revisi besar pertama dari MMPI adalah MMPI-2, yang standar pada sampel nasional baru orang dewasa di Amerika Serikat dan dirilis pada tahun 1989. Hal ini sesuai untuk digunakan dengan 18 orang dewasa dan lebih. revisi berikutnya dari elemen uji tertentu telah diterbitkan, dan berbagai macam sub-skala juga diperkenalkan selama bertahun-tahun untuk membantu dokter menginterpretasikan hasil skala klinis asli, yang telah ditemukan mengandung faktor umum yang membuat interpretasi dari nilai pada skala klinis sulit. MMPI saat-2 memiliki 567 item, semua format benar atau salah, dan biasanya memakan waktu antara 1 dan 2 jam untuk menyelesaikan, tergantung pada tingkat membaca. Ada formulir yang digunakan jarang disingkat uji yang terdiri dari MMPI 2 pertama yang 370 item. Versi yang lebih pendek telah terutama digunakan dalam keadaan yang belum memungkinkan versi lengkap akan selesai (misalnya, penyakit atau tekanan waktu), tetapi skor yang tersedia pada versi pendek tidak begitu luas seperti yang tersedia dalam versi 567-item. A dan psychometrically meningkatkan versi baru-MMPI 2 baru-baru ini dikembangkan menggunakan metode statistik yang ketat yang digunakan untuk mengembangkan Timbangan RC tahun 2003. Bentuk MMPI-2 direstrukturisasi baru (MMPI-2-RF) kini telah dirilis oleh Pearson Penilaian. MMPI-2-RF menghasilkan nilai pada teori grounded, hirarkis terstruktur set timbangan, termasuk Timbangan RC. Metode modern yang digunakan untuk mengembangkan MMPI-2-RF tidak tersedia pada saat MMPI pada awalnya dikembangkan. MMPI-2-RF dibangun di atas fondasi Scales RC, yang telah secara ekstensif diteliti sejak publikasi mereka pada tahun 2003. Publikasi di-2-RC Scales MMPI meliputi bab buku, beberapa artikel yang dipublikasikan dalam peer-review jurnal, dan alamat penggunaan skala dalam berbagai pengaturan 2-RF skala istirahat MMPI pada asumsi bahwa psikopatologi adalah suatu kondisi homogen yang aditif.
Uji pengembang Hathaway dan McKinley menggunakan teknik uji konstruksi empiris untuk mengembangkan MMPI. This involved basing the test scales (for example the hypochondriasis scale) on the actual test items that differentiate people with hypochondriasis from 'normals'. Ini melibatkan mendasarkan skala uji (misalnya skala hypochondriasis) pada item tes yang sebenarnya yang membedakan orang dengan hypochondriasis dari 'normals'. Often, the questions that do this most reliably are not concerned with health issues as such. Seringkali, pertanyaan yang melakukan hal ini paling andal tidak peduli dengan masalah kesehatan seperti itu. This has two advantages. Ini memiliki dua keuntungan. First, it makes it very difficult for subjects to 'fake' responses, deny problems or give a particular impression. Second, the MMPI-2 is based on empirical research and not on a clinician's assumptions about what answers indicate particular personality traits. Pertama, itu membuat sangat sulit untuk mata pelajaran untuk 'salah' respon, menyangkal masalah atau memberi kesan tertentu,. Kedua di-MMPI 2 didasarkan pada penelitian empiris dan bukan pada klinisi asumsi tentang apa jawaban menunjukkan ciri kepribadian tertentu.
Data penelaian dari MMPI-2 sangat berguna dalam pengaturan kesehatan kerja dalam presentasi kompleks dimana keraguan tentang apa yang benar-benar salah dengan pasien ada. Sebagai contoh, MMPI-2 biasanya harus bisa mendeteksi secara tidak sadar atau sadar somatizing berpura-pura sakit pada pasien. MMPI 2 juga dapat digunakan untuk menilai stabilitas psikologis pada pekerja di berisiko tinggi 'profesi' seperti pilot pesawat, polisi atau pekerja dalam industri tenaga nuklir.
Salah satu kelemahan dari MMPI-2 untuk dokter kesehatan kerja adalah bahwa MMPI-2 adalah berlisensi tes ketat dan hanya dapat dibeli, dikelola dan diinterpretasikan oleh seorang psikolog klinis yang berpengalaman sesuai atau psikiater. Karena itu, harus dianggap sebagai penyelidikan diagnostik kompleks untuk digunakan relatif jarang terjadi. Dibutuhkan kebanyakan orang antara 1 jam dan 90 menit untuk menyelesaikan-MMPI-2.
SKALA
MMPI yang asli memiliki 13 skala standar, tiga diantaranya berhubungan dengan validitas dan sepuluh lainnya berhubungan dengan indeks-indeks klinisi atau kepribadian. MMPI-2 dan MMPI-A yang lebih baru mempertahankan kesepuluh skala klinis/kepribadian maupun tiga skala validitas lainnya.

Skala
Nama
Singkatan
Nmr Skala
Jml Item
Validitas
Cannot say
?
Variable response inconsistency
VRIN
98
True response inconsistency
TRIN
40
Infrequency
F
60
Black-F
Fb
40
Infrequency- psychopathology
Fp
27
Fake bad scale
FBS
Lie
L
15
Correction
K
30
Superlative Self Presentation
S
50
Klinis (skala dasar)
Hypochondriasis
Hs
1
32
Depression
D
2
57
Hysteria
Hy
3
60
Psychopathic deviate
Pd
4
50
Masculinity-feminity
Mf
5
56
Paranoia
Pa
6
40
Psychasthenia
Pt
7
48
Schizophrenia
Sc
8
78
Hypomania
Ma
9
46
Social introversion
Si
0
69
Isi
Anxiety (kecemasan)
ANX
23
Fears (ketakutan)
FRS
23
Obsessiveness
OBS
16
Depression
DPS
33
Health concern
HEA
36
Bezaare mentation
BIZ
23
Anger
ANG
16
Cynicism
CYN
23
Antisocial practices
ASP
12
Type A
TPA
19
Low self-esteem
LSE
24
Social discomfort
SOD
24
Family problem
FAM
23
Work inference
WRK
33
Negative treatment indicator
TRT
26

SKALA VALIDITAS
MMPI adalah salah satu tes pertama yang mengembangkan skala-skala untuk mendeteksi apakah responden menjawab dengan cara yang akan membuat hasil-hasilnya secara keseluruhan tidak valid.
1.    Skala “?” atau Cannot Say (SC)
Skala ? (disingkat ? atau CS) bukan benar-benar sebuah skala formal tetapi sekedar merepresentasikan jumlah item yang dibiarkan tidak terjawab pada lembar profil. Kegunaan mencatat jumlah pertanyaan yang tidak terjawab adalah memberikan salah satu dari beberapa indeks validitas sebuah protocol. Jika 30 item atau lebih dibiarkan tidak terjawab, protocol itu kemungkinan besar tidak valid dan tidak ada interpretasi lebih jauh yang perlu diupayakan. Hal ini semata-mata karena jumlah item yang telah direspon tidak cukup, yang berarti informasi yang tersedia untuk menskor skala kurang. Jadi, hasil-hasilnya kurang dapat dipercaya. Untuk meminimalkan jumlah respon cannot say, klient seharusnya di dorong untuk menjawab seluruh pertanyaan.
2.    Skala VRIN
VRIN terdiri dari pasangan-pasangan pertanyaan terpilih yang diharapkan untuk dijawab secara konsisten jika orang itu mendekati tes dengan cara yang valid. Setiap pasangan item memiliki isi yang mirip atau berlawanan.
3.    Skala TRIN
Skala ini sama sepperti skala VRIN akan tetapi, hanya pasangan-pasangan dengan isi berlawanan yang di masukan.
4.    Skala F
Skala ini mengukur sejauh mana seseorang menjawab dengan cara yang atipikal dan menyimpang. Item-item dengan skala F MMPI dan MMPI-2 diseleksi berdasarkan dukungan oleh kurang dari 10% populasi. Jadi, dari segi definisi statistic, mereka merefleksikan cara berfikir yang nonkonvensional. Skor tinggi pada skala F biasanya disertai oleh skor-skor yang tinggi pada banyak skala klinis. Skor tinggi sering dapat digunakan sebagai indicator umum patologi. Seseorang yang mempunyai skor tinggi mungkin juga “faking bad”, yang bisa menginvilidasi protokolnya.
5.    Skala Fb
Keempat puluh item Fb MMPI-2 dirancang untuk mengidentifikasi cara merespon “fake bad” (pura-pura sakit) untuk 197 item terakhirnya. Tanpa skala Fb, tidak aka nada pengecekan pada validitas beberapa item selanjutnya.
6.    Skala Fp
Oleh karena skala F biasanya terelevasi pada pasien-pasien psikiatrik, sering kali sulit untuk membedakan antara para penyandang psikopatologi sejati dengan mereka yang menyandang sedikit patologi, tetapi berpura-pura sakit.
7.    Skala FBS
Fake bad scale (FBS) dikembangkan dengan harapan bahwa skala ini akan dapat mendeteksi pihak yang mengajukan tuntutan cedera pribadi yang membesar-besarkan masalahnya . studi-studi lain mengindikasikannya sebagai salah satu skala terbaik MMPI-2 untuk mendeteksi kepura-puraan.
8.    Skala L
Skala L atau lie (kebohongan) terdiri atas 15 item yang mengindikasikan sejauh mana seorang klien berusaha mendeskripsikan dirinya dengan cara positif yang tidak realistis. Jadi, mereka yang mendapat skor tinggi mendeskripsikan dirinya secara terlalu perfeksionis dan idealis.
9.    Skala K
Skala ini dorancang untuk medeteksi klient-klient yang terlalu positif dalam mendeskripsikan dirinya. Jadi, skala ini mempunyai kesamaan dengan skala L. akan tetapi, skala K, lebih subtil dan efektif. Bila hanya individu-individu yang naïf, moralistic dan tidak rumit saja yang akan mendapatkan skor tinggi pada skala L, orang yang lebih cerdas dan pintar secara psikologis mungkin mempunyai skor K yang mungkin sedikit lebih tinggi meskipun mungkin tidak menunjukan elevasi pada skala L.
10.  Skala S
Skala S dikembangkan dengan harapan bahwa skala bisa mengidentifikasikan dengan lebih akurat orang yang berusaha tampak terlalu baik. Kelima puluh item skala S dikembangkan dengan mencatat perbedaan-perbedaan dalam dukungan dalam terhadap item antara orang dalam situasi perkejaan yang cenderung menampilkan dirinya secara ekstrem positif dan sempel respon normatif. Jadi, orang yang mendukung beberapa item ini dengan jumlah tinggi menampilkan dirinya sebagai orang yang rukun dengan orang lain, bebas dari masalah psikologi, dan mempunyai keyakinan yang kuat terhadap kebaikan manusia. Skala ini tampaknya tidak efektif dalam mendiskriminasikan antara nonpasien yang diminta menampilkan dirinya secara ekstrem positif dan orang yang diminta untuk merespon secara jujur.
SKALA KLINIS
1.    Hypochondriasis (Hs)
Skala 1 awalnya dirancang untuk membedakan penderita hipokondriasis dengan para pasien dengan tipe-tipe psikiatrik lainnya. Meskipun skala itu dapat menunjukan diagnosis hipokondriasis, namun skala itu paling berguna sebagai sebuah skala untuk mengindikasikan berbagai macam karakteristik kepribadian, tetapi belum tentu konsisten dengan diagnostic untuk hipokondriasis.
2.    Depression
Kelima puluh tujuh item skala dua berhubungan dengan brooding, kelambanan fisik, perasaan depresi yang subjektif, apati mental, dan malfungsi fisik.skor tinggi mungkin mengindikasikan berbagai kesulitan disalah satu bidang atau lebih. Orang yang mendapat skor tinggi pada skala 2 biasanya dideskripsikan sebagai orang yang suka mengkritik dirinya, menarik diri, suka menyendiri, pendiam dan retiring (mengundurkan diri).
3.    Hysteria
Dirancang untuk mengindikasikan pasien-pasien yang telah mengembangkan gangguan-gangguan atau motorik-motorik yang berbasis psikogenetik. Fitur penting orang yang mempunyai skor tinggi pada skala ini adalah mereka secara stimulan melaporkan keluhan-keluhan fisik tertentu, tetapi juga menggunakan gaya pengingkaran dimana mereka mungkin mengekspresikan optimism secara berlebih-lebihan.
4.    Psychopathic deviant
Skala ini untuk mengetes tingkat penyesuaian social seseorang secraa umum. Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan bidang-bidang seperti derajat pengasingan diri dari keluarga, kedap social, masalah dengan sekolah dan figure otoritas, dan penarikan diri dan masyarakat.
5.    Masculinity-feminity
Skala ini dirancang untuk mengidentifikasi laki-laki yang mengalami maslaah dengan perasaan homoseksual dan kebingungan identitas gender. Akan tetapi, upaya ini kurang berhasil karena skor yang tinggi tampaknya tidak mempunyai kaitan yang jelas dengan preferensi seksual.
6.    Paranoia
Untuk mengidentifikasi orang dengan kondisi atau keadaan paranoid. Ia mengukur derajat sensitifitas interpersonal, kebijakan-diri, dan kecurigaan seseorang. Elevasi ringan pada skala 6 menunjukan bahwa orang itu emosional, berhati lembut, dan mengalami sensitivitas interpersonal. Bila elevasi lebih tinggi, kecurigaan dan sensitifitas seseorang menjadi lebih ekstrim dan konsisten dalam proses-proses psikotik.
7.    Psychasthenia
Keempat puluh delapan item pada skala 7 awalnya dirancnag untuk mengukur sindroma psikastenia.
8.    Schizophrenia
Skala ini dirancang untuk mengidentifikasi orang yang mengalam kondisi skizofrenik atau mirip. Tujuan ini sebagian berhasil dalam arti bahwa diagnosis skizofrenia muncul sebagai sebuah kemungkinan dalam kasus orang yang mendapat skor ekstreem tinggi. Akan tetapi, bahkan orang yang mendapat skor cukup tinggipun belum tentu memenuhi criteria skizofrenia.
9.    Hypomania
Keempat puluh enam item pada skala 9 awalnya dikembangkan untuk mengidentifikasikan orang yang mengalami gejala-gejala hipomanik. Gejala-gejala ini mungkin mencakup periode-periode siklus euphoria, iritabilitas yang mengikat, dan aktivitas tidak produktif yang eksesif yang mungkin digunakan sebagai distraksi untuk menghancurkan depresi. Skala ini efektif bukan hanya dalam mengidentifikasi orang dengan kondisi manic tingkat sedang, tetapi juga dalam mengidentifikasi karakteristik kelompok-kelompok bukan pasien.
10.  Social introversion
Skala ini dikembangkan dari person wahasiswa pada pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan kontinum introversi-ekstraversi. Skala ini divalidasi berdasarkan sejauh mana mahasiswa ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan social. Skor yang tinggi menunjukan bawah responden pemalu, mempunyai keterampilan social yang terbatas, merasa tidak nyaman dalam interaksi sosial, dan menarik diri dari banyak situasi interpersonal.
RELIABILITAS & VALIDITAS
Studi-studi reliabilitas MMPI orisinal itu menunjukan bahwa MMPI itu mempunyai tingkat stabilitas temporal dan konsistensi internal yang sedang-sedang saja. Hunsley, Hanson dan Parker (1988) melakukan sebuah meta-analisis terhadap studi-studi yang dilakukan terhadap MMPI antara tahun 1970 dan 1981 dan menyimpulakan “semua MMPI cukup reliable, yang nilai-nilainya berkisar mulai serendah 0,71 (skala Ma) sampai paling tinggi 0,84 (skala Pt).
Skala validitas ini dalam MMPI-2 RF adalah revisi kecil dari mereka yang terdapat dalam MMPI-2, yang meliputi tiga jenis dasar dari langkah-langkah validitas: orang-orang yang dirancang untuk mendeteksi non-merespons atau tidak konsisten menanggapi (SSP, VRIN, Trin), yang dirancang untuk mendeteksi ketika klien atas pelaporan atau melebih-lebihkan prevalensi atau keparahan gejala psikologis (F, Fb, Fp, FBS), dan yang dirancang untuk mendeteksi apabila tes-taker berada di bawah-pelaporan atau mengecilkan gejala psikologis (L, K)). Sebuah tambahan baru dengan skala validitas untuk MMPI-2 RF mencakup atas pelaporan skala skala gejala somatik (Fs).

Singkatan
Dlm versi baru
Deskripsi
Menilai
CNS
1 1
"Tidak bisa Katakanlah"
Pertanyaan belum terjawab
L
1 1
Berbohong
Klien "berpura-pura baik"
F
1 1
Kejarangan
Klien "berpura-pura buruk" (dalam paruh pertama uji)
K K
1 1
Defensif
Penolakan / menghindar
Fb Fb
2 2
Kembali F
Klien "berpura-pura buruk" (dalam setengah terakhir uji)
VRIN VRIN
2 2
Variabel Respon Inkonsistensi
pasangan menjawab pertanyaan serupa / berlawanan tidak konsisten
TRIN
2 2
Respon Benar Inkonsistensi
menjawab pertanyaan semua benar / semua palsu
FK
2 2
F minus K
kejujuran tanggapan uji / tidak berpura-pura baik atau buruk
S
2 2
Superlative Self-Presentation Superlatif Self-Presentasi
meningkatkan pada skala K, "muncul terlalu baik"
Fp
2 2
F-Psychopathology
penyajian dalam setting klinis
Fs Fs
2 RF 2 RF
Jarang somatik Respon
Overreporting gejala somatik

ADMINISTRASI
MMPI-2 dapat diadministrasikan pada orang yang berumur 16 tahun keatas dengan tingkat kemampuan membaca kelas delapan (kelas 2-SMP) tetapi norma-norma remaja perlu digunakan. Akan tetapi opsi yang lebih baik untuk individu yang berumur antara 14 dan 18 tahun adalah dengan meminta mereka mengerjakan MMPI-A. Secara khusus, examiner seharusnya menjelaskan kepada klient alasan pengetesan dan bagaimana hasilnya akan digunakan. Mungkin juga perlu dikemukakan bahwa tes itu dirancang untuk menentukan apakah seseorang menampilkan dirinya sendiri dengan cara yang positif, tetapi tidak realistis atau menunjukan gangguannya secara berlebih-lebihan. Jadi strategi yang terbaik adalah meminta examinee untuk sejujur dan sejelas mungkin. Terakhir, mungkin perlu diklarifikasikan bahwa sebagian, atau bahkan banyak, pertanyaannya mungkin tampak tidak biasa.
MMPI-2 dan MMPI-A hanya mempunyai boolet form, meskipun mereka tersedia dengan softcover atau hardcover. Penyelesaian 370 item yang pertama pada MMPI-2 dan 350 item pertama pada MMPI-A memungkinkan untuk penskoran beberapa skala validitas dasar skala klinis standar. 197 item terakhir MMPI-2 dan 128 item terakhir MMPI-A digunakan untuk menskor skala-skala suplementer dan skala isi yang berbeda. Pengadministrasian computer online tersedia melalui national computer systems. Untuk orang yang mempunyai kesulitan khusus, sebuah form/ bentuk individual (box) dan sebuah bentuk rekaman suara telah dikembangkan.
Panjangnya MMPI yang kadang-kadang menjadi penghalang itu telah mendorong perkembangan banyak bentuk pendek. Akan tetapi kebanyakan belum ditemukan cukup reliable atau valid. Salah satu bentuk singkat yang bsia diterima adalah mengadministrasikan semua item yang diperlukan untuk menskor skala-skala validitas dasar dan skala-skala klinis standar saja (misalnya, 370 item pertama MMPI-2 atau 350 item pertama MMPI-A). dua opsi lainnya adalah menggunakan ke-388 item MMPI-2 Restructured form atau administrasi yang diadaptasikan untuk computer.
PROSEDUR INTERPRETASI
Delapan langkah dibawah ini direkomendasikan untuk menginterpretasi profil-profil MMPI-2 dan MMPI-A. Langkah-langkah ini seharusnya diikuti dengan pengetahuan dan kesadaran tentang implikasi umur, budaya, tingkat intelektual, pendidikan, tingkat fungsi maupun alas an, motivasi, maupun konteks assessment. Sementara itu, melihat konfigurasi tes secara keseluruhan (langkah 4, 5 dan 6), klinisi dapat mengelaborasi makna skala-skala yang berbeda dan hubungan di antara skala-skala dengan melihat hipotesis-hipotesis interpretif yang berkaitan dengannya.
a.    Waktu Penyelesaian
Examiner seharusnya mencatat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes. untuk orang yang sedikit terganggu, yang berumur 16 tahun atau lebih, dengan IQ rata-rata, dan pendidikan kelas delapan, waktu penyelesaian total untuk MMPI-2 seharusnya kira-kira 90 menit. Administrasi computer biasanya 15 sampai 30 menit lebih singkat (60-75 menit secara total). MMPI-A biasanya membutuhkan waktu 60 menit dan dengan komputer biasanya 15 menit lebih singkat (45 menit secara total). Jika dibutuhkan waktu dua jam atau lebih untuk MMPI-2 atau 1,5 jam atau lebih untuk MMPI-A, kemungkinan-kemungkinan dibawah ini harus dipertimbangkan.
1.    Gangguan psikologis berat, khususnya depresi atau psikosis fungsional berat
2.    Tidak mampu memutuskan
3.    IQ dibawah rata-rata atau kemampuan membaca yang buruk akibat latar belakang pendidikan yang tidak kuat
4.    Hendaya serebral
Akan tetapi, jika examinee menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 60 menit, examiner seharusnya curiga bahwa profil itu tidak valid, ada kepribadian impulsive, atau keduanya.
Catat semua penghapusan jawaban atau titik-titik yang dibuat dengan pensil diatas lembar jawaban. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa orang itu mengerjakan tesnya dengan serius dan mengurangi kemungkinan menjawab secara acak ; penghapusan dalam jumlah banyak mungkin kerefleksikan kecenderungan obsesuf-kompulsif.
b.    Menskor Jawaban Tesnya dan Membuat Plot Profilnya
Selesaikan penskoran dan buat plot profilnya. Petunjuk khusus untuk menabulasikan skor-skor kasar MMPI-2 dan mengonversikannya menjadi profil tersedia dalam lampiran. Catat skor item-item kritisnya dan catat item-item mana yang menunjukan tren-tren penting. Sering kali membantu jika sampai titik tertentu klinisi itu mereview beberapa item tersebut bersama klien dan mendapatkan berbagai elaborasi. Secara khusus, sanagat esensial untuk menentukan apakah orang itu memahami apa yang ditanyakan oleh itemnya. Selain itu, kadang-kadang membantu jika kita memerikasa lembar-lembar jawabannya dan mencatat pertanyaan-pertanyaan mana yang terlewati, kalau ada. Diskusi dengan klient tentang mengapa ia memilih untuk tidak merespons bisa menambah informasi tentang bagaimaan ia berfungsi secara psikologis dan bidang-bidang apa yang menimbulakan konflik bagi dirinya.
c.    Mengorganisasikan Skala-skala dan Mengidentifikasi Tipe Kode
Mengembangkan kode-kode rangkuman memberikan metode cepat untuk mencatat hasil-hasil MMPI-2/MMPI-A. Tipe kode dapat ditentukan dengan sekedar melihat dua elevasi skala tertingi. Perlu dicacat bahwa scale 5 n 0 bukan skala-skala yang strict (tepat) klinis, jadi mereka tidak digunakan dalam menentukan tipe kode. Examiner perlu ingat bahwa hanya tipe-tipe kode yang didefinisikan dengan jelas yang dapat diinterpretasikan dengan aman. Sebuah tipe kode yang terdefinisi dengan baik adalah jika skala-skala didalamnya terelevasi diatas 65 dan skala-skala yang digunakan untuk menentukan tipe kodenya 5 poin skor T atau lebih diatas skala-skala tertinggi berikutnya. Profil-profi yang kurang terdefinisi dengan jelas seharusnya diinterpretasi dengan mencatat setiap skala yang terelevasi dan setelah itu mengintegrasikan makna-makna yang didapatkan dari descriptor-deskriptor yang berbeda.
d.    Menentukan Validitas Profil
Asas validitas profil dengan mencatat pola skala-skala validitasnya. Ada sejumlah indikator yang menunjukan profil-profil yang tidak valid, yang dideskripsikan dibagian berikutnya. Pola-pola dasarnya itu, yakni gaya defensif yang meminimalkan patologi atau pola respons yang tidak konsisten. Disamping itu, klinisi seharusnya mempertimbangkan konteks asesmen untuk menentukan apakah gaya respon yang defensif, fake bad, atau tidak konsisten mendukung apa yang diketahui tentang klien. Secara khusus, seharusnya examiner menentukan kemungkinan bahwa examinee secara potensial mendapatkan hasil tes dengan overreporting atau underreporting psikopatologi.
e.    Menentukan Tingkat Penyesuaian Secara Umum
Catat jumlah skala yang diatas 65 dan elevasi relatif skala-skala tersebut. Sejauh mana F terelevasi juga dapat menjadi indikator yang sempurna untuk tingkat patologi. Semakin banyak elevasi skala-skala ini, semakin besar kemungkinan individu untuk mendapatkan kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab dasarnya dan mengalami ketidaknyamanan sosial maupun pribadi.
f.      Mendeskripsikan Gejala, Perilaku, dan Ciri-ciri Kepribadian
Langkah ini merepresentasikan proses inti dalam interpretasi. Elevasi ringan pada skala-skala individual merepresentasikan kecendurangan atau tren dalam kepribadian individu. Interpretasinya harus diperlakukan dengan hati-hati untuk deskriptor-deskriptor yang lebih ekstrem yang di buang atau di parafrasakan untuk merepresentasikan karakteristik-karakteristik yang lebih ringan. Skor-skor dalam rentang ini pada MMPI-A di soroti dengan shading, sehingga menunjukkan zona marginal atau transisional antara normalitas dan patologi. Elevasi di atas 65 pada MMPI-2 dan MMPI-A merupakan karakteristik yang lebih kuat dari individu dan dengan peningkatan yang secara progresif semakin besar, cenderung merepresentasikan fitur-fitur inti dari fungsi kepribadian. Akan tetapi, mendasarkan interpretasi pada elevasi-elevasi skor T tertentu semata bisa menyesatkan, karena ciri-ciri demografis atau tingkat fungsi seorang klien bisa mengubah interpretasinya. Klinisi perlu mengintrepastiskan keakuratan makna potensial dengan mempertimbangkan bukan hanya elevasi-elevasi, tetapi juga variabel-variabel lain yang relevan. Selain itu masing-masing deskripsinya adalah modal. Mereka seharusnya dianggap sebagai kemungkinan interpretasi yang belum tentu berlaku untuk semua orang yang mempunyai skor tertentu. Mereka sekadar hipotesis yang perlu verifikasi lebih lanjut. Poin ini di garis bawahi oleh temuan bahwa kira-kira dalam rentang 40% dari deskriptor-deskriptor yang di hasilkan komputer tidak berlaku pada orang yang diakses (Butcher et al., 2000).
Meskipun skor-skor T tidak di berikan untuk kebanyakan interpretasi skala, mereka di masukkan dalam subbagian tentang skala-skala validitas. T validitas dan kadang-kadang skor kasar di masukkan karena ada penelitian ekstensif tentang skor cutoff yang optimal.
Selama proses interpretasi, jangan sekadar mencatat makna masing-masing skala, tetapi juga memeriksa pola atau konfigurasi tes secara keseluruhan dan mencatat "puncak-puncak" dan "lembah-lembah" relatifnya. Konfigurasi-konfigurasi yang tipikal mungkin termasuk, misalnya "conversion V" yang merefleksikan kemungkinan gangguan konversi atau elevasi Skala 4 dan 9, yang merefleksikan kemungkinan yang tinggi untuk acting-out behavior. Perlu di catat bahwa semua skala yang lebih dari 65 atau kurang dari 40 sangat penting bagi interpretasi secara keseluruhan. Ketika berusaha memahami makna sebuah profil dengan dua elevasi skala klinis atau lebih, di rekomendasikan bahwa klinisi membaca deskriptor-deskriptor untuk masing-masing skala maupun deskripsi-deskripsi kode 2-poin yang relevan. Juga di rekomendasikan bahwa, ketika membaca tentang elevasi-elevasi pada skala tunggal, klinisi seharusnya membaca makna elevasi-elevasi yang tinggi dan rendah maupun informasi yang lebih umum tentang skala yang relevan. Elaborasi lebih lanjut tentang makna elevasi skala dan tipe kode bisa didapatkan dengan menskor dan menginterpretasi skala-skala isi, Harris-Lingoes dan sub skala Si, skala-skala suplementer, skala-skala klinis yang direstrukturisasi, dan/atau beberapa item kritis. Jika informasi interpretatif tersedia, klinisi dapat memeriksa profil individu bersama persyaratan pertanyaan rujukan, yaitu menentukan deskripsi yang relevan untuk masing-masing bidang ini.
Banyak deskripsi klien yang di fokuskan pada defisit klien. Dengan demikian, klinisi sering berusaha menerjemahkan interpretasi ini ke dalam bahasa sehari-hari yang ramah klien. Untuk membantu ini, pernyataan umpan balik klien yang di peroleh dari Lewak et al. (1990) di masukkan ke dalam deskripsi skala klinis individu. Bahasanya telah di pilih agar terasa empatik, meningkatkan rapport, dan meningkatkan kemungkinan klien untuk tumbuh. Pernyataan-pernyataan itu juga dapat di edit untuk mengembangkan interpretasi yang lebih di fokuskan pada klien untuk di gunakan dalam laporan aktual.
g.    Memberikan Impresi Diagnostik
Meskipun MMPI orisinil dan MMPI-2/MMPI-A belum berhasil untuk langsung menghasilkan diagnosis, mereka sering menyumbangkan informasi yang cukup banyak, yang relevan untuk formulasi diagnosis. Di bagian tipe-tipe kode, berbagai kemungkinan di diagnosis DSM-IV-TR yang konsisten dengan masing-masing tipe kode telah dimasukkan. Klinisi seharusnya mempertimbangkan ini, bersama informasi tambahan yang tersedia, untuk membantu membuat diagnosis yang akurat. Di beberapa konteks dan untuk beberapa tipe pertanyaan rujukan, diagnosis formal akan relevan; tetapi, untuk konteks-konteks dan pertanyaan-pertanyaan rujukan lain, diagnosis formal tidak akan di butuhkan atau tidak akan cocok (misalnya, penyaringan karyawan). Review lebih jauh terhadap berbagai pertimbangan dan pedoman yang di deskripsikan dalam Langkah 6 mungkin berguna dalam mengekstrasi informasi yang relevan untuk diagnosis.
h.    Mengelaborasi Implikasi dan Rekomendasi Penanganan
Salah satu pelayanan yang paling berharga yang dapat di beri seorang praktisi adalah memprediksi kemungkinan klien untuk mendapatkan manfaat dari intervensi. Hal ini biasanya berarti mengelaborasi kekuatan dan kelemahan seseorang, tingkat defensifnya, kemampuannya untuk membentuk hubungan penanganan, prediksi respons terhadap psikoterapi (catat terutama skala Es [Ego Strength] dan TRT), tendensi antisosial, dan tingkat insight. Banyak di antara informasi ini yang di rangkum di akhir sub bagian tentang elevasi skala dan tipe kode. Jika melaksanakan pekerjaan ekstensif dengan tipe-tipe klien tertentu, klinisi mungkin perlu memperluas pengetahuan yang terkait dengan tipe dan hasil penanganan dengan merujuk pada basis penelitian ekstensif yang tersedia. Responsivitas terhadap penanganan bisa di perluas lagi dengan memberikan saran-saran untuk menyesuaikan intervensi-intervensi spesifik untuk berbagai profil klien dan berbagai tipe permasalahan. Mereview bidang-bidang, pertimbangan, dan pedoman yang di deskripsikan dalam Langkah 6 mungkin berguna dalam mengekstraksi informasi yang relevan dengan rencana penanganan. Sumber lain yang berguna dalam proses ini adalah Use of Psychological Testing for Treatment Planning and Outcome Assesment dari Maruish (1990). Lewak et al. (1990) tidak hanya memberikan saran-saran untuk penanganan, tetapi juga mengikhtisarkan prosedur langkah-langkah untuk mentranslasikan hasil-hasil MMPI-2 menjadi umpan balik yang jelas dan relevan bagi klien. Langkah-langkah ini termasuk isu-isu spesifik untuk latar belakang dan pengalaman hidup awal klien dan saran-saran untuk menolong diri sendiri. Pernyataan-pernyataan ini dapat di gunakan untuk memberikan umpan balik secara ramah pengguna, yang akan cenderung meningkatkan rapport dan mengoptimalkan pertumbuhan klien. Selain itu manual oleh Finn (1996) untuk menggunakan MMPI-2 sebagai intervensi terapeutik.
BEBERAPA ITEM KRITIS
Salah satu alternatif untuk analisis ini, selain menskor dan menginterpretasi skala-skala aktual, adalah menginterpretasi makna beberapa item yang berdasarkan isinya, tampak berhubungan dengan berbagai bidang psikopatologi (ide bunuh diri depresif, kebingungan mental, dan lain-lain) atau arah item-item ini mungkin merepresentasikan patologi serius, terlepas dari bagaimana orang itu merespons bagian lain inventori. Item-item ini di sebut sebagai pathogonomic items, stop items, atau yang lebih sering critical items. Di asumsikan bahwa arah respons seseorang merepresentasikan contoh perilaku orang itu dan berfungsi seperti sebuah skala pendek yang menunjukkan tingkat fungsi orang itu secara umum. Beberapa item kritis sangat berguna ketika klinisi melihat isi item individual dalam kaitannya dengan tipe-tipe informasi tertentu yang di ungkap oleh item tersebut. Informasi ini bisa di gunakan untuk memandu wawancara lebih lanjut. Akan tetapi, interpretasinya perlu di lakukan dengan hati-hati, karena beberapa item tersebut rawan acquiescing response (respons yang cenderung setuju) (kunci sebagian item-nya ke arah "True") dan faking bad. Mereka seharusnya tidak di anggap sebagai skala, tetapi komunikasi langsung tentang bidang-bidang yang spesifik untuk isi item tersebut. Daftar bebrapa item kritis dapat ditemukan dalam manual MMPI-2 (Butcher et al., 2001); beberapa item ini biasanya diskor oleh program-program dengan bantuan komputer.
Meskipun daftar beberapa item kritis sudah dimasukkan dalam manual MMPI-2 (Butcher et al., 2001), klinisi seharusnya menggunakan daftar ini dengan hati-hati pada remaja. Pertama, remaja normal maupun populasi-populasi klinis remaja secara rata-rata membenarkan beberapa item kriris dua kali lipat lebih banyak di banding orang dewasa normal (Archer & Jacobson, 1993). Di samping itu, remaja normal maupun berbagai populasi klinis membenarkan beberapa item dengan frekuensi yang hampir sama, sehingga menunjukkan bahwa beberapa item itu seharusnya tidak di gunakan untuk membedakan kedua kelompok ini. Hal ini berarti bahwa upaya-upaya empiris untuk mengembangkan daftar beberapa item kritis untuk remaja mungkin mengalami kesulitan. Sebagaimana MMPI/MMPI-2, klinisi seharusnya tidak memperlakukan klaster-klaster item kritis sebagai skala-skala kasar yang akan di interpretasi. Alih-alih, isi item individual seharusnya di gunakan untuk mengembangkan pernyataan-pernyataan wawancara yang spesifik, dan penyimpangan relatif beberapa item ini seharusnya di tangani dengan toleransi yang tepat.

DAFTAR RUJUKAN

Hawari D: Manfaat Pemeriksaan MMPI sebagai Penunjang/Pelengkap Diagnosis Klinik Ciri/Gangguan Kepribadian (Aksis 2, PPDGJ-II) Jiwa, XXI, 1 (1989)

Salan R : Aplikasi MMPI dalam Klinik Psikiatri. Jakarta, 1989

Sadock BJ and Sadock VA : Clinical Neuropsychological Testing, Kaplan & Sadock̢۪s Synopsis of Psychiatry, Volume I, 9th edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2003.

Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH : Personality Disorders, Textbook of Psychiatry, Churchill Livingstone. 1996.

Applegate KL et al. Does Personality at College Entry Predict Number of Reported Pain Conditions at Mild-Life ? A Longitudinal Study. The Journal of Pain, Vol 6, No 2 (February), 2005

Graham JR : The Practical MMPI A Practical Guide, 2nd edition, Oxford University Press, 1987

Sabtu, 14 Januari 2012

Istilah-istilah Sosiologi dalam kehidupan sehari-hari

Kelompok Sosial
Kelompok yang anggotanya mempunyaikesadaran jenis, berhubungan sosial antar anggota, dan tidak ada kesadaran jenis.

Gregrariousness
Kelompok sosial yang dilatarbelakangi naluri manusia untuk selalu hidup dengan orang lain.

Prestise
Pengaruh.

In Group
Dalam kelompok.

Out Group
Luar dari kelompok

Etnosentrisme
Membanggakan budaya dalam dan menjelek-jelekan budaya luar.

Primary Group
Kelompok kecil yang agak langgeng(permanen) dan yang berdasarkan saling mengenal secara pribadi antarsesama

Secondary Group
Kelompok formal tidak pribadi dan berciri kelembagaan

Face To Face Relation
Anggotanya suatu kelompok kecil selalu sering mengenal

Gesellschaft ( Patembayan)
Ikatan lahir yang bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imagination) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin

Gemeinschaft ( Paguyuban )
Kehidupan bersama yang setiap anggotanya diikat oleh sehubungan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang memang telah dikodratkan.

Wesenwille
Bentuk kemauan yang dikodratkan yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami

Kurwille
Bentuk kemauan yang dipimpin oleh cara berpikir

Intimate
Hubungan menyeluruh yang mesra sekali

Private
Hubungan  bersifat pribadi khusus untuk beberapa  orang saja

Exclusive
Hubungan yang ditujukan hanyalah untuk kita saja, tidak untuk orang lain diluar kita

Public Life
Hubungan yang bersifat untuk semua orang

Formal Group
Kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan dengan sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antaranggotanya

Informal Group
Kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi biasanya terbentuk karena pertemuan yang berulang kali menjadi dasar bagi bertemunya kepentingan dan pengalaman yang sama

Clique
Suatu kelompok kecil tanpa struktur formal

Yang sering timbul dalam kelompok besar:

Kelompok Anggota ( Membership Group )
Kelompok yang setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut

Kelompok Acuan ( Reference Group )
Kelompok social yang menjadi ukuran bagi seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) membentuk pribadi dan perilakunya

Publik
Kelompok yang bukan merupakan kesatuan

Kerumunan ( Crowd )
Suatu kelompok social yang bersifat sementara ( temporer )

Acting Crowd
Kerumunan yang bertindak emosional

Immoral Crowd
Kerumunan yang bersifat lembaga

Formal Audiences
Kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya pasif

Panic Crowd
Orang yang bersama-sama berusaha menyelamatkan diri dari bahaya

Planned Expressive group
Kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut serta kepuasan

Inconvenient aggregations
Kerumunan yang bersifat sementara dan kurang menyenangkan karena kehadiran orang lain tidak diharapkan dalam kerumunan tersebut demi tercapainya tujuan, biasanya sekumpulan orang yang sedang mengantri

Spectator Crowd
Sekumpulan orang yang ingin melihat kejadian tertentu

Multikulturalisme
Sebuah ideologi yang mengagungkan perbedaan budaya atau sebuah keyakinan yang mengakui dan mendorong terwujudnya pluralisme ( keberagaman ) budaya sebagai suatu corak kehidupan masyarakat

Civic Education
Pendidikan kemasyarakatan

Stigma
Suatu klaim yang ditujukan kepada orang lain terbentuk karena sebuah pola pikir

Migrant Superiordination
Pola dominan kelompok pendatang atas kehendak pribumi

Genosida ( Genocide )
Pembersihan / penghapusan etnik

Rasisme
Ideologi yang didasarkan pada keyakinan bahwa  ciri tertentu yang dibawa sejak lahir menandakan bahwa pemilik ciri itu lebih rendah sehingga mereka didiskriminasi

Seksisme
Ideologi yang beranggapan bahwa hal kecerdasan dan kekuatan fisik laki-laki melebihi perempuan dan perempuan lebih emosional daripada laki-laki

Dekulturasi
Proses luntur atau hilangya kebudayaan pendatang atas kelompok ras pribumi

Kolektif
Perilaku sejumlah orang guna mencapai tujuan yang dipicu suatu peristiwa, benda , atau ide

Paternalisme
Bentuk dominasi kelompok ras pendatang atas kelompok ras pribumi

Integrasi
Suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan makna penting pada perbedaan ras tersebut.

Pluralisme
Pola hubungan yang mengenal pengakuan persamaan hak politik dan hak perdata semua warga masyarakat, tetapi memberikan arti penting lebih besar pada kemajemukan kelompok ras daripada pola integrasi

White Supermacy
Ideologi rasis yang menganggap bahwa orang kulit putih lebih unggul daripada orang kulit hitam

Koersi ( Coercion )
Tindakan yang mengandung paksaan

Interaksi Sosial
Suatu hubungan yang terjadi antara individu dengan individu ,individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok yang terjadi dalam suatu masyarakat

Intergenerasi
Sesuatu yang terjadi pada beberapa generasi dalam saru garis keturunan

Intragenerasi
Sesuatu yang terjadi pada satu generasi yang sama

Gencatan senjata
Pencegahan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu

Ajudikasi
Suatu penyelesaian perkara atau sengketa pengadilan

Akulturasi
Pembauran atau perpaduan kebudayaan kelompok ras yang bertemu

Arbitrase
Perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang memutuskan dan diterima serta ditaati oleh 
kedua pihak

Diskriminasi
Perlakuan berbeda terhadap orang yang dikelompokkan dalam kategori khusus

Konsiliasi
Usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih bagi tercapainya
Suatu persetujuan bersama

Kompromi
Kedua atau semua pihak yang terlibat dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah, dengan mengurai tuntutan tertentu

Konflik
Suatu proses social yang dua orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya

Kontravensi
Suatu bentuk proses social yang ditandai oleh gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian atau keraguan terhadap kepribadian seseorang

Mobilitas
Gerak perubahan yang terjadi dalam masyarakat

Masyarakat Majemuk
Suatu masyarakat yang didalamnya terdapat kelompok yang berbeda bercampur, tetapi tidak berbaur

Mobilisasi Geografik
Adanya kondisi yang susah yang mendorong orang melakukan urbanisasi, yaitu pindah ke daerah lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi

Mobilitas Sosial
Perpindahan social, gerak social atau gerakan social yang dapat berbentuk fisik dan nonfisik

Stalemate
Suatu keadaan pihak yang bertentangan memiliki kekuatan setimbang, namun terhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya karena kedua belah pihak sudah tidak mungkin lagi maju atau mundur

Subjugation
Orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk menaatinya

Stratifikasi Sosial
Pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise

Struktur Sosial
Hubungan timbale balik antara posisi dan peranan

Solidaritas
Adanya sifat atau rasa senasib dan sebagainya ; perasaan setia kawan

Mediasi
Penghentian pertikaian oleh pihak ketiga dengan diberikan keputusan yang mengikat

Diferensiasi Sosial
Pembedaan penduduk atau warga masyarakat ke dalam golongan-golongan atau kelompok secara horizontal ( tidak bertingkat )

Stratifikasi Sosial
Pembedaan penduduk atau warga secara bertingkat ( vertikal )

kalo ada istilah-istilah yg kurang, mohon ditambahkan ya....^_^...semoga bermanfaat !

Senin, 09 Januari 2012

Setelah Lulus Kuliah Part IV (RS Dr. Wahidin Sudirohusodo)

Bulan Desember 2007...lupa tgl berapa, iseng2 daftar CPNS Lingkup KEMENKES. Alhamdulillah lulus, senangnya hatiku ketika itu, dan belum pernah aku sesenang dan sebahagia itu. Aku bersyukur, Terima kasih pada Allah, org tuaku, saudaraku, dan semua yg mendukungku.

Ceritanya kenapa sampai aku bisa lulus. Aku kan tinggal di asrama RSU Haji karena waktu itu memang sementara kerja disana. Nah, di asrama kami ada 6 orang, tdk lagi berdua, mereka Tina, Hany, Dyah, Uni, Alam, dan aku sendiri. Alam yg kebetulan merangkap sebagai THL alias Tenaga Harian lepas di RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo memberitahu ke kami kalo ada pendaftaran CPNS di lingkup KEMENKES, kami yg tidak tw apa2 senang sekali mendengarnya. "Hanya saja daftarnya via internet (online)" begitu kata Alam. Jadi aku minta alamat websitenya, kemudian melihat persyaratan apa yg mesti dilengkapi, setelah itu, daftarnya rame2 di Cozy Warnet bersama teman2 yg lain. Kami registrasinya malam, soalnya kalo pagi atw siang yang buka banyak jadi sulit registrasinya. Prosedurnya juga ga seribet tahun sekarang, kenapa aku bilang gitu, karena waktu itu, setelah daftar, print outnya aku kirim ke Jakarta (pusat), tunggu pengumuman lulus berkas, lulus, kemudian menjelang ujian, ambil kartu tes di kampus Poltekkes Kebidanan Banta-bantaeng, yg kampusnya tidak jauh dari rumahku.



Lulus...yup...aku lulus, katanya tgl 23 pengumuman kita diterima atw ga, ternyata pengumumannya lebih awal yaitu tgl 21 Desember 2007 (kalo ga salah inget). Hari itu aku lagi dinas pagi di UGD RSU haji, karena hari itu aku barteran hape ma pacar (sekarang dah mantan), aku pegang nomernya. Trus dapet sms dari nomerku, isinya gini, "sayang, selamat yaa....aku bangga sama kamu". Aku tersenyum2 aja bacanya dan bales sms itu "maksudnya apa?" tanyaku. Kemudian dia nelpon katanya aku lulus ujian CPNS, awalnya ga percaya tapi dia bilang banyak sms yang dia terima dari teman2ku ucapan selamat atas kelulusanku. Aku belum puas dengan berita itu karena kupikirnya pengumuman kan nanti tgl 23, ini baru tgl 21 Desember. Kemudian aku duduk termenung di depan UGD, "bener ga ya yg dibilangnya tadi??", pertanyaan itu bersliweran di kepalaku. Tiba-tiba Kepala Seksi keperawatan RSU Haji ke UGD waktu itu dan bertanya, "kamu kenapa??" aku ceritakan kalo katanya aku lulus hanya saja aku belum liat pengumuman itu. Beliau lalu memberikan ucapan selamat sambil menjabat tanganku. Yo wess, aku minta izin ma K' Diman partner jagaku waktu itu dan ke warnet buat ngecek (masih kuingat waktu itu hujan deras yg mengguyur Makassar), setelah buka situs www.ropeg-depkes.or.id, disitu namaku urutan ke-13....yaaaa....aku lulus, senang bercampur haru. 15 orang perawat yang lulus termasuk diriku, Alhamdulillah Ya Allah...

Mendaftar ulang...ya...berkas aku siapkan buat mendaftar ulang, masih belum percaya kalo aku diterima di RS Pusat rujukan Indonesia Timur ini, apalagi hanya aku yang diterima dari 6 teman di asrama yg mengikuti registrasi. Jujur, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo, tepatnya di IRD, aku berangan-angan "bisakah aku kerja disini nantinya?? ahhh....tidak mungkin!" pikirku begitu tapi ternyata angan2ku berubah jadi kenyataan, terima kasih ya Allah...

SK penempatanku (di ruang mana aku akan ditempatkan) di Lontara IV Anak Bawah, anak!!!! ruangan yg paling aku hindari. Tapi kenapa sampe aku dapat ruang itu??? .......aku sadar, ini rencana Allah....aku mulai kerja disana, lama kelamaan akhirnya betah juga, ditambah dengan kebersamaan dan keramahan teman2ku, meski aku yg termuda dan belum menikah di ruang itu.

Di ruang ini, tiap hari senin, ada banyak dokter muda dari UNHAS dan UMI, dibagi per-divisi, Gatroentero-hepatologi, respirologi dan infeksi, sekarang ditambah dengan saraf. Tiap pergantian shift, dokter jaga juga ganti (residen), enaknya karena yang follow up pasien, kami dibantu oleh dokter muda atw co ass, ada juga penanggung jawab laboratorium pasien yang adalah co ass itu sendiri.

Hingga kini aku sangat senang di ruangan itu...banyak pengalaman yg kutemukan karena sudah 4 tahun di Lontara IV Anak.



Pemeriksaan Neurologi


1. Fungsi Cerebral
Keadaan umum, tingkat kesadaran yang umumnya dikembangkan dengan Glasgow Coma Scala (GCS) :

• Refleks membuka mata (E) 4 : Membuka secara spontan
3 : Membuka dengan rangsangan suara
2 : Membuka dengan rangsangan nyeri
1 : Tidak ada respon

• Refleks verbal (V)
5 : Orientasi baik
4 : Kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan.
3 : Kata-kata baik tapi kalimat tidak baik
2 : Kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang
1 : Tidak keluar suara

• Refleks motorik (M)
6 : Melakukan perintah dengan benar
5 : Mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukaan perintah dengan benar
4 : Dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi
3 : Hanya dapat melakukan fleksi
2 : Hanya dapat melakukan ekstensi
1 : Tidak ada gerakan

Cara penulisannya berurutan E-V-M sesuai nilai yang didapatkan. 
Penderita yang sadar = Compos mentis pasti GCS-nya 15 (4-5-6), 
sedang penderita koma dalam, GCS-nya 3 (1-1-1)
Bila salah satu reaksi tidak bisa dinilai, misal kedua mata bengkak sedang V dan M normal, penulisannya X – 5 – 6. Bila ada trakheastomi sedang E dan M normal, penulisannya 4 – X – 6. Atau bila tetra parese sedang E an V normal, penulisannya 4 – 5 – X.
GCS tidak bisa dipakai untuk menilai tingkat kesadaran pada anak berumur kurang dari 5 tahun.

Derajat kesadaran :
Sadar : Dapat berorientasi dan berkomunikasi
Somnolens : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlenan lagi. Gelisah atau tenang.
Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala.
Semi koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar (contoh mnghindri tusukan)
Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus

Kualitas kesadaran :
Compos mentis : bereaksi secara adekuat
Abstensia drowsy/kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. Perhatian terhadap sekeliling berkurang. Cenderung mengantuk.
Bingung/confused : disorientasi terhadap tempat, orang dan waktu
Delirium : mental dan motorik kacau, ada halusinasi dn bergerak sesuai dengan kekacauan fikirannya.
Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa

Gangguan fungsi cerebral meliputi :
Gangguan komunikasi, gangguan intelektual, gangguan perilaku dan gangguan emosi

Pengkajian status mental / kesadaran meliputi :
GCS, orientasi (orang, tempat dan waktu), memori, interpretasi dan komunikasi.

2. Fungsi nervus cranialis
Cara pemeriksaan nervus cranialis :
a. N.I : Olfaktorius (daya penciuman) :
Pasiem memejamkan mata, disuruh membedakaan bau yang dirasakaan (kopi, tembakau, alkohol,dll)

b. N.II : Optikus (Tajam penglihatan):
dengan snelen card, funduscope, dan periksa lapang pandang

c. N.III : Okulomorius (gerakam kelopak mata ke atas, kontriksi pupil, gerakan otot mata):
Tes putaran bola mata, menggerkan konjungtiva, palpebra, refleks pupil dan inspeksi kelopak mata.

d. N.IV : Trochlearis (gerakan mata ke bawah dan ke dalam):
sama seperti N.III

e. N.V : Trigeminal (gerakan mengunyah, sensasi wajah, lidah dan gigi, refleks kornea dan refleks kedip):
menggerakan rahang ke semua sisi, psien memejamkan mata, sentuh dengan kapas pada dahi dan pipi. Reaksi nyeri dilakukan dengan benda tumpul. Reaksi suhu dilakukan dengan air panas dan dingin, menyentuh permukaan kornea dengan kapas

f. N.VI : Abducend (deviasi mata ke lateral) :
sama sperti N.III

g. N.VII : Facialis (gerakan otot wajah, sensasi rasa 2/3 anterior lidah ):
senyum, bersiul, mengerutkan dahi, mengangkat alis mata, menutup kelopak mataa dengan tahanan. Menjulurkan lidah untuk membedakan gula dengan garam

h. N.VIII : Vestibulocochlearis (pendengaran dan keseimbangan ) :
test Webber dan Rinne

i. N.IX : Glosofaringeus (sensasi rsa 1/3 posterio lidah ):
membedakan rasaa mani dan asam ( gula dan garam)

j. N.X : Vagus (refleks muntah dan menelan) :
menyentuh pharing posterior, pasien menelan ludah/air, disuruh mengucap “ah…!”

k. N.XI : Accesorius (gerakan otot trapezius dan sternocleidomastoideus)
palpasi dan catat kekuatan otot trapezius, suruh pasien mengangkat bahu dan lakukan tahanan sambil pasien melawan tahanan tersebut. Palpasi dan catat kekuatan otot sternocleidomastoideus, suruh pasien meutar kepala dan lakukan tahanan dan suruh pasien melawan tahan.

l. N.XII : Hipoglosus (gerakan lidah):
pasien suruh menjulurkan lidah dan menggrakan dari sisi ke sisi. Suruh pasien menekan pipi bagian dalam lalu tekan dari luar, dan perintahkan pasien melawan tekanan tadi.

3. Fungsi motorik
a. Otot
Ukuran : atropi / hipertropi
Tonus : kekejangan, kekakuan, kelemahan
Kekuatan : fleksi, ekstensi, melawan gerakan, gerakan sendi.

Derajat kekuatan motorik :
5 : Kekuatan penuh untuk dapat melakukan aktifitas
4 : Ada gerakan tapi tidak penuh
3 : Ada kekuatan bergerak untuk melawan gravitas bumi
2 : Ada kemampuan bergerak tapi tidak dapat melawan gravitasi bumi.
1 : Hanya ada kontraksi
0 : tidak ada kontraksi sama sekali

b. Gait (keseimbangan) : dengan Romberg’s test

4. Fungsi sensorik
Test : Nyeri, Suhu,
Raba halus, Gerak,
Getar, Sikap,
Tekan, Refered pain.

5. Refleks
a. Refleks superficial
• Refleks dinding perut :
Cara : goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial
Respon : kontraksi dinding perut

• Refleks cremaster
Cara : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah
Respon : elevasi testes ipsilateral
• Refleks gluteal
Cara : goresan atau tusukan pada daerah gluteal
Respon : gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral

b. Refleks tendon / periosteum
• Refleks Biceps (BPR):
Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku.
Respon : fleksi lengan pada sendi siku

• Refleks Triceps (TPR)
Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi
Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku

• Refleks Periosto radialis
Cara : ketukan pada periosteum ujung distal os radial, posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi
Respon : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi krena kontraksi m.brachiradialis

• Refleks Periostoulnaris
Cara : ketukan pada periosteum prosesus styloid ilna, posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi supinasi.
Respon : pronasi tangan akibat kontraksi m.pronator quadratus


• Refleks Patela (KPR)
Cara : ketukan pada tendon patella
Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris

• Refleks Achilles (APR)
Cara : ketukan pada tendon achilles
Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius

• Refleks Klonus lutut
Cara : pegang dan dorong os patella ke arah distal
Respon : kontraksi reflektorik m.quadrisep femoris selama stimulus berlangsung

• Refleks Klonus kaki
Cara : dorsofleksikan kki secara maksimal, posisi tungkai fleksi di sendi lutut.
Respon : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung

c. Refleks patologis
• Babinsky
Cara : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior
Respon : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari kaki lainnya

• Chadock
Cara : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari posterior ke anterior
Respon : seperti babinsky

• Oppenheim
Cara : pengurutan krista anterior tibia dari proksiml ke distal
Respon : seperti babinsky

• Gordon
Cara : penekanan betis secara keras
Respon : seperti babinsky

• Schaefer
Cara : memencet tendon achilles secara keras
Respon : seperti babinsky

• Gonda
Cara : penekukan (plantar fleksi) maksimal jari kaki ke-4
Respon : seperti babinsky

• Stransky
Cara : penekukan (lateral) jari kaki ke-5
Respon : seperti babinsky

• Rossolimo
Cara : pengetukan pada telapak kaki
Respon : fleksi jari-jari kaki pada sendi interfalangeal

• Mendel-Beckhterew
Cara : pengetukan dorsum pedis pada daerah os coboideum
Respon : seperti rossolimo

• Hoffman
Cara : goresan pada kuku jari tengah pasien
Respon : ibu jari, telunjuk dan jari lainnya fleksi

• Trommer
Cara : colekan pada ujung jari tengah pasien
Respon : seperti hoffman

• Leri
Cara : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan, sikap lengen diluruskan dengan bgian ventral menghadap ke atas
Respon : tidak terjadi fleksi di sendi siku

• Mayer
Cara : fleksi maksimal jari tengah pasien ke arah telapk tangan
Respon : tidak terjadi oposisi ibu jari
d. Refleks primitif

• Sucking refleks
Cara : sentuhan pada bibir
Respon : gerakan bibir, lidah dn rahang bawah seolah-olah menyusu

• Snout refleks
Cara : ketukan pada bibir atas
Respon : kontrksi otot-otot disekitar bibir / di bawah hidung

• Grasps refleks
Cara : penekanan / penekanan jari pemeriksa pada telapak tangan pasien
Respon : tangan pasien mengepal

• Palmo-mental refleks
Cara : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian thenar
Respon : kontaksi otot mentalis dan orbikularis oris (ipsi lateral)

Selain pemeriksaan tersebut di atas juga ada beberapa pemeriksaan lain seperti :
Pemeriksaan fungsi luhur:
1. Apraxia : hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan volunter atas perintah
2. Alexia : ketidakmampuan mengenal bahasa tertulis
3. Agraphia : ketidakmampuan untuk menulis kata-kata
4. Fingeragnosia: kesukaran dalam mengenal, menyebut, memilih dan membedakan jari-jari, baik punya sendiri maupun orang lain terutama jari tengah.
5. Disorientasi kiri-kanan: ketidakmampuan mengenal sisi tubuh baik tubuh sendiri maupun orang lain.
6. Acalculia : kesukaran dalam melakukan penghitungan aritmatika sederhana.

Senin, 02 Januari 2012

Setelah Lulus Kuliah Part III (KIPPI)


Setelah memutuskan meninggalkan RSB Dika dan RSU Haji untuk mengikuti pelatihan Kursus Intensive Penyiapan Perawat International alias KIPPI alias Intensive Course Preparing International Nurses atw ICPIN in July 2007. Kebayang salary-nya yg banyak sampe pangkat pengatur  gol. II/d saja ga bisa dapet, jauuhhhhh...mesti kerja setahun. Kalo disana pasti cuma sebulan,  salary-nya melebihi  salary supervisor PT. Inco Tbk. betapa makmur dan sejahteranya....

Test tulis aku ikuti, alhamdulillah lulus, setelah itu ada tes interview lagi dalam Bhs. Inggris, ribettt ga tw mw ngomong apa kalo ditanya! ckckckck. Tapi Alhamdulillah semua berlalu, lulus juga.....Aku disini tidak sendiri, ada 5 orang angkatanku di Akper Anging Mammiri alias letting2ku (kata org Makassar yg artinya seangkatan). Aku sendiri, Madia Gaddafi (Dyah), Muh. Anwar Iskandar (Anho'), Gustina Ardiana (Tina), Salman Al-Farizy (Curu') dan Yustina Pamalingan (k' Yustin).

Kami tinggal di asrama tepatnya di LPMP Jl. AP.Pettarani. Dimulai dengan seragam yg kami gunakan baju putih dan celana atw rok warna hitam ditambah dasi (mirip banget mahasiswa yg mw ujian skripsi). Yup, aku sekamar dengan Dyah. Our activity everyday sarapan, after that go to ELC to study about English yg tempatnya Jl. Lamadukelleng, sampingnya RM. Dinar. Jam 08.00 teng sudah harus ada di bis (kami diantar jemput selama mengikuti kursus), kalo telat, ya resiko, mesti naik angkot atw taksi aja kesana. Kalopun bis bersedia nunggu, liat aja muka temen2 dongkolnya minta ampun, katanya gini "lo yg telat jadinya semua telat!", hahahaha....say maaf aja, "iya, lain kali ga lagi!".



Nyampe di ELC jam 08.30, kelas mulai jam 08.30 sampe jam 20.30 malam. Coffe break jam 10.00 dan jam 16.00, ISHOMA jam 12.00 dan jam 18.00. cape' banget....belum lagi aturan2 yg dibuat di kelas, ngomong ga pake Bhs. Inggris dapet denda apalagi kalo menghina alias insulting bisa bangkrut kita, soalnya dendanya 10.000 rupiah.Maklum, di kelas waktu itu ada teman yg belum lancar Bhs. Inggrisnya trus karena usilnya teman yg lain, menghina2 pake Bhs. Inggris, dan kalo yg dihina atw yg diejek keberatan, siap2 aja merogoh kocek, hhhhmmmmm. Kelas dibagi 2, tiap kelas 15 orang karena jumlah kami ada 30 orang dari berbagai institusi kesehatan di Pulau Sulawesi ini. Kelas berakhir jam 20.30. Pulang dari situ cape banget, belum lagi kalo dapet PR, atw mw ketemuan ma pacar, udah tengah malem. Di ELC juga aku ikut test TOEFL atw Test of English as a Foreign Language adalah ujian kemampuan berbahasa Inggris yg diperlukan untuk mendaftar masuk universitas di LN. Skornya waktu itu hanya >400, blom nyampe 500 tapi lumayan, aku dah dapet pengalaman ngerjain soal2 TOEFL.

Setelah 1,5 bulan di ELC, kami pindah ke Akper Tidung untuk belajar sesuai dengan bidang kami, keperawatan. tetep pake Bhs. Inggris tentunya, aku kira disini bisa lebih nyantai ternyata ga, dateng jam 08.00-21.30. Kelasnya tutor, dibagiin kasus, trus cari sendiri jawabannya di perpustakaan, sampe2 buku Fundamental Of Nursing versi Inggris kami buka demi ngedapetin jawaban kasus. Kenapa ga pake versi Indonesia? siapa sih yg mw kerja dua kali?? mesti ngetranslate lagi, ribettt. After that panel....ohhhh...belum kalo diserang dengan pertanyaan2 yg membuat pemateri pusing 7 keliling, hahahaha....tapi alhamdulillah semuanya terlalui. Disini kami juga latihan ngerjain soal2 NCLEX dimana semacam tes kompetensi bagi perawat yang ingin mendapatkan lisensi profesional keperawatan. NCLEX test ini dikeluarin oleh NCSBN (semacam PPNI-nya Amrik).

3 bulan telah berlalu, kursus selesai, selanjutnya.....ke LN. Tetapi tidak semua berangkat karena sesuatu dan lain hal seperti aku yg lulus CPNS di lingkup KEMENKES. Tetapi tidak sedikit juga teman2 alumni KIPPI yg sukses disana.

Continue Part IV...........

Minggu, 01 Januari 2012

Setelah Lulus Kuliah Part II (RSB Dika)

Setelah diterima di RSB Dika, RS Bersalin Dika, aku tinggal asrama juga disini. Berhubung disini RS swasta, pelayanan harus maksimal. Standby kalo2 ada cito operasi SC. Asrama di Lt. III, disitu disiapin aiphone agar supaya kalo ada apa2, cito operasi misalnya, harus ready, nah, mengenai siapa yg turun jadi asisteren, sesuai giliran aja, kalo emang dalam hari itu belum dapet giliran ya....dia yg turun. Di asrama ada 2 kamar, di tengah ada ruang nonton dan kumpul2 kalo kami2 pada libur, tapi sayang jarang bangettt, liburnya ga bersamaan.

Kerja disini, dituntut banget termasuk attitude. Beda dengan RSU haji dan RSB Dika, disini ga boleh telat, kalo di RSU Haji kadang aku telat kesana apalagi kalo dapet shift dinas pagi sementara ada cito operasi pagi2 ketika aku jaga malam, ribetttt....tapi untungnya Karu (Kepala Ruangan) tempatku baik banget, Mba Anty, orgnya sangat mengerti.

Disini, kerjanya nerima bayi, bersihin badannya, membantu dokter kalo melakukan kuretase, jadi asiteren kalo ada cito operasi di OK, pokoknya kerjanya ga kalah banyak dengan RSU Haji. Seneng banget kalo udah Tgl 1, karena tiap Tgl segitu, aku pasti gajian, sayangnya, uang ada tapi kesempatan buat belanja ga ada karena ya kerja rangkap tadi, istirahat aja kurang.

Kerja disini juga ada asyik ga asyiknya, asyiknya salah satunya, pusat perbelanjaan deket banget, penjual terang bulan dan martabak bejibun sepanjang jalan RSB Dika ini (Jl. Irian). Apalagi kalo ada orang tua yang karena seneng banget anaknya lahir, Kita semua yg jaga ditraktir, hahahaha....Kalo ga asyiknya....ketika lagi istirahat, tengah malam misalnya, trus ada cito operasi sementara teman yang dapet giliran pulang, trus aku yang standby, yaaaa......mw tidak mw...belum lagi mesti jaga pasiennya di Recovery Room. Pasien diruang ini, aktivitasnya semua dibantu oleh perawat/bidan, secara keadaan umumnya masih lemah banget. Kalo dinas pagi, dapet tugas mandiin bayi, kalo kamar pasiennya Lt. II, mesti bolak balik bawain sang bayi karena kalo bawa dua takut jatoh, ntar disuruh ganti bisa berabe!

Kalo ada pasien mw kuret, kita yang nyiapin alat, dokter tinggal datang, lakukan tindakan dengan dibantu oleh penata anastesi. Pokoknya kerja disini sangat menambah pengalamanku sebagai perawat. Hari demi hari, merangkap RSU Haji dan RSB Dika. Sampe waktu itu liat pamflet penerimaan peserta Kursus Intensive Penyiapan Perawat International atw Intensive Nurse Preparing International Nurses (ICPIN). Aku coba2 daftar, ehhh diterima, kuputuskan untuk mengundurkan diri bulan Juni 2007 di RSB Dika waktu itu. terima kasih buat teman2 yang sudah banyak membantu dan mengajariku.

Continue Part III..........................


Setelah Lulus Kuliah Part I (RSU Haji)

Aku seorg nurse in the hospital, kuliah sambil kerja jadi PNS di Instansi KEMENKES, hahaha....kerja sambil kuliah maksudku. Iya, aku diterima di RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2007 bulan Desember. Nah...mengenai kapan bagaimana sampai aku bisa diterima di instansi ini, nanti aja aku bahas di Part IV. I was graduate tahun 2006 in September from Akper Anging Mammiri Provinsi Sulawesi Selatan. Belum kuterima ijazah dan transkrip waktu itu tapi gelar AMK atw Ahli Madya Keperawatan sudah kusandang. Teman2 udah pada daftar di RS yang ada di Makassar. Aku hanya nyantai di rumah, menikmati acara tv soalnya baru kelar ujian KTI yg org2 bilang Karya Tulis Ilmiah.

Aku berpikir mo nyari kerja juga ahh, trus nyobain masukin lamaran di RSU Haji Makassar bulan September 2007, dengan bantuan temen waktu itu K' Oda, kebetulan aku yg buatin KTInya, meski hanya sebagai tenaga sukarela yg ga boleh mangharap dibayar oleh pihak RS, aku pikir kenapa ga?? daripada ilmuku ga diaplikasikan dan skill-ku tumpul kenapa ga terima aja??....Finally setelah interview dengan Kasie Keperawatan waktu itu, aku diterima. Alhamdulillah ya....!

Hari pertama kerja di RSU Haji Makassar tepatnya Perawatan Bedah, aku kenalan dengan teman2 di ruang itu, masih kuingat orang yang pertama kali yg ngajak kenalan denganku K' Anty, dia seorang perawat pelaksana di ruang itu juga. Aku belum bertemu dengan Kepala Ruangan Perawatan Bedah waktu itu karena yang kudengar beliau lagi sakit dan sementara opname di Perawatan III (VIP). Namanya udah kenal, temen2 manggilnya Mba' Anty, orgnya bae banget, kalo ngomong kedengarannya lucu di telingaku, logat Jakarta, secara beliau emang dari sono. Ruangan tempatnya dirawat tepat di bawah ruangan Perawatan Bedah. Di ruang ini kerjaannya tiap hari GV alias ganti verban alias wound dressing kata org2 luar negeri. Ada yang hanya sekali sehari, ada yang dua kali sehari. Pasiennya juga bermacam2, tua, muda, anak-anak, maupun bayi (pokoknya yg berhubungan dengan bedah). Disini tempatnya pasien2 yang mw operasi dan setelah operasi yg mendapat perawatan. Pertama kali pasang infus aku gagal, diajari ma K' Ridho waktu itu, jadi tremor soalnya baru pertama kali masangnya.

Di RSU Haji aku tinggal asrama, berdua dengan Madia Gaddafi (seorang perawat dan penulis buku "kaki waktu"). Kamar yg kami tempati kamar pasien hanya saja ruangan ini tidak dipakai jadi kami bersihkan. Tempatnya di Lantai III. Hari pertama nginap disitu sereeemmmmmm bangetttt, kenapa aku bilang gitu, gimana gak, kamarnya gede banget, ukurannya sih 10x10 meter kalo ga salah (bukan aku yg ngukur, cuman dikira2 aja), di dalamnya ada kamar mandi. Bayangin, luas banget kan?? sementara aku hanya berdua, kalo kami ngobrol, suara tuh terpantul2, xixixixi....(persis kalo lagi ngomong di kaleng kosong). Jadwal jaga kami beda, Ooo iya, Dyah (panggilan buat Madia Gaddafi) tugasnya di Perawatan I, khusus penyakit Interna alias penyakit dalam. Kadang aku dinas pagi (ruanganku deket banget ma asrama, pas di Lt. II, asramaku kan Lt. III) Dyah jaga sore, aku jaga malam, Dyah dinas pagi, pokoknya jarang ketemu dan istirahat sama2. Maklum karena kami beda ruangan, kalopun satu ruangan, pasti jadwal shiftnya juga beda.

Hari demi hari di Perawatan Bedah, waktu itu ada pasien lansia, post operasi. Menurutnya sih pelayananku kepadanya bagus, kemudian beliau memberitahukan pada menantunya (K' Anggo, kebetulan dia temen juga di RSU Haji, hanya saja tempatnya di Ruang OK). K' Anggo yg waktu itu juga merangkap kerja di RSB Dika sedang mencari perawat untuk bekerja di sana (RSB Dika). Kemudian aku ditawarkan untuk bekerja disana, buat lamaran hari ini, kemudian langsung bawa juga kesana, tempatnya jauhhhhh bangetttt, naik pete2 (public transportation) mpe 1 jam soalnya muter2 Pantai Losari dulu.

Continue Part II.................