Kamis, 06 Mei 2010

PERSPEKTIF KEPERAWATAN ANAK

KESEHATAN ANAK
Kesehatan merupakan fenomena kompleks yang didefenisikan sebagai suatu keadaan kesejahteraaan fisik, mental dan social yang komplet dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit.( WHO ).
Indikator yang perlu diperhatikan adalah:
– Mortalitas
– Morbiditas
Dimana, informasi tentang keduanya memberikan informasi tentang:
– Penyebab kematian dan kesakitan
– Kelompok usia berisiko tinggi terhadap gangguan/penyakit tertentu
– Kemajuan pengobatan dan pencegahan
– Bidang/area tertentu dalam konseling kesehatan

MASYARAKAT SEHAT TAHUN 2010
Di tetapkan berdasarkan inisiatif untuk melanjutkan Masyarakat Sehat 2000.
Tujuan dan sasarannya saat ini dikembangkan melalui konsultasi yang luas dan bersifat memiliki kolaborasi dan melibatkan masyarakat.
Adapun tujuan Indonesia sehat 2010 adalah:
• Meningkatkan usia hidup sehat
• Menghilangkan kesenjangan kesehatan
• Meningkatkan prilaku sehat, perlindungan kesehatan
• Menjamin akses ke pelayanan, kesehatan berkualitas
• Menekankan pecegahan di komunitas

MORTALITAS DAN MORBIDITAS PADA BAYI DAN ANAK-ANAK
1. MORTALITAS
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun.
• Mortalitas Bayi
Angka mortalitas bayi merupakan jumlah kematian per 1000 kelahiran hidup selama tahun pertama kehidupan, yang kemudian dibagi menjadi mortalitan neonatal (usia <28 hari) dan mortalitas pascanatal (usia 28 hari-11 bulan)
Proporsi Penyakit penyebab kematian bayi (Depkes, 2004): :
– Penyakit system pernafasan 29,5 %
– Gangguan perinatal 29,3 %
– Diare 13,9 %
– Penyakit sistem syaraf 5,5 %
– Tetanus 3,68%
– Infeksi dan parasit lain 3,5 %
• Mortalitas anak-anak
Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia satu sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari. Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi Utomo, 1985).

2. MORBIDITAS
Morbiditas dapat merujuk kepada:
• pernyataan terkena penyakit (dari bahasa Latin morbidus: sakit, tidak sehat),
• derajat kerasnya penyakit,
• meratanya penyakit: jumlah kasus pada populasi,
• insiden penyakit: jumlah kasus baru pada populasi.
• Cacat terlepas dari akibat (contoh cacat disebabkan oleh kecelakaan).

Morbiditas anak-anak
Banyak disebabkan oleh penyakit akut (penyakit pernapasan 50%, infeksi dan penyakit parasit 11%), cedera 15 %, dan ketidakmampuan yang dapat diukur dengan aktivitas dalam derajat tertentu (Pless dan Pless,1997)
Morbiditas meningkat pada mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.Penyebab utama hal ini adalah terbatasnya akses ke pelayanan kesehatan.
11 juta balita dunia meninggal/tahun karena infeksi, 54% berkaitan dengan kurang gizi ( WHO, 2002).Angka kurang gizi (Depkes, 2004):
– 1989 ; 37,% 2000 : 24,7%
– 2001 : 26,1% 2002 : 27,3%
– 2003 : 27,5%
– BBLR : 350.000 bayi / tahun

EVOLUSI PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI INDONESIA
Perkembangan pelayanan keperawatan terkini
Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya.

Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologi informasi yang sangat membantu dalam proses keperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan.

Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan.

PENGARUH BUDAYA, AGAMA DAN KEPERCAYAAN TERHADAP KESEHATAN ANAK
Keyakinan keluarga tentang kesehatan, pola didik dan pola asuh terhadap anak juga dipengaruhi oleh nilai budaya, agama dan moral yang dianutnya. Ini akan mempengaruhi kesehatan anak bahkan dimulai sejak ia masih di dalam kandungan ibunya. Setiap keluarga memiliki pandangan yang berbeda dalam membesarkan anaknya, seperti yang memiliki perbedaan budaya antara keluarga dengan budaya minang dan keluarga berbudaya batak. Hal-hal yang ditanamkan terhadap anak-anak mereka berbeda sehingga pola hidup dan kesehatan anaknya juga berbeda misalnya dalam kesehatan emosional.


KEPERAWATAN PEDIATRIK
Pediatrik berkenaan dengan kesehatan bayi, anak remaja, , pertumbuhan dan perkembagannya dan kesempatannya untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa.Lebih dari seabad yang lalu ilmu pediactrik muncul sebagai kekhususan dalam menanggapi meningkatan kasadaran bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa dan bahwa respon anak terhadap sakit dan stres berdeda beda sesuai dengan umur

FILOSOFI KEPERAWATAN ANAK
KEPERAWATAN ANAK
– konsisten dengan pengertian keperawatan
– merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada keluarga, pencegahan terhadap trauma dan manajemen kasus.

TUJUAN DAN MANFAAT
– Pencapaian derajat kesehatan yang tinggi bagi anak sebagai satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan di keluarga.
– Meningkatkan kepuasaan anak dan keluarga
– Mengurangi fragmentasi pemberian asuhan

PERAWATAN BERFOKUS PADA KELUARGA (FAMILY CENTERED CARE)
Keluarga sebagai suatu kehidupan yang konstan dan individu mendukung, menghargai dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi dalam memberikan asuhan terhadap anak (Johson, 1989). System pelayanan dan personel harus juga mendukung, menghargai, mendorong dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi keluarga melalui pemberdayaan pendekatan dan pemberian bantuan efektif (Duns dan Trivette, 1996)
Sebagai seorang perawat, kita harus mampu memfasilitasi keluarga dalam pemberian tindakan keperawatan langsung, pemberian pendidikan kesehatan pada anak, memperhatikan bagaimana kehidupan social, budaya dan ekonomi keluarga sehingga dapat membantu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari keluarga tersebut dalam memberikan pelayanan keperawatan. Perawat juga melibatkan keluarga dalam hal ini yaitu dengan cara mengajak kerjasama/ melibatkan dan mengajarkan pada keluarga tentang perawatan anak ketika sehat maupun sakit.
• Konsep dasar Family Center Care
– Enabling: melibatkan keluarga (memampukan, memberdayakan, dan kemitraan)
– Empowering : pengambil keputusan

ATRAUMATIC CARE
• Tujuan utama : “DO NO HARM” yaitu :
– Mencegah/mengurangi anak berpisah dari orang tua
– Perlindungan
– Mencegah/mengurangi trauma fisik dan nyeri

PRIMARY NURSING
• Mendukung pelaksanaan askep anak
• Menjadikan asuhan yang konsisten dan berfokus pada keluarga sebagai komponen integral pada perencanaan dan pelaksanaan.

MANAJEMEN KASUS (CASE MANAGEMENT)
Sistem pemberian asuhan yang seimbang antara biaya dan kualitas.

PERAN KELUARGA DALAM KEPERAWATAN ANAK
KELUARGA:
– Suatu sistem terbuka
– terdapat sub / komponen, memiliki tujuan/fungsi, interrelasi dan interdependensi, dipengaruhi oleh system luar.

FUNGSI KELUARGA:
– Merawat fisik anak
– Mendidik anak untuk menyesuaikan dengan kultur
– Bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak secara psikologis/emosional.

ELEMEN KUNCI FAMILY-CENTERED CARE
• Mengenal bahwa keluarga bersifat menetap pada kehidupan anak, sedangkan personil dan sistem pelayanan berfluktuasi
• Memfasilitasi kolaborasi orang tua dan perawat pada semua tingkat asuhan
• Menghormati keanekaragaman ras, budaya, dan sosio ekonomi dalam keluarga
• Mengenali kekuatan keluarga dan perorangan serta menghormati perbedaan
• Mendorong dan memfasilitasi dukungan keluarga dan jaringan kerja
• Mengerti dan memasukkan kebutuhan perkembangan bayi, anak, remaja dan keluarga dalam sistem asuhan.
• Menerapkan sistem asuhan yang dpt dilaksanakan secara fleksibel

PRINSIP PERAWATAN ANAK
• Perawat tidak boleh mengabaikan ketrampilan & pengetahuan orang tua anak
• Perawat tidak boleh mengabaikan kepercayaan anak
• Perawat harus selalu memperhatikan keadaan kesehatan mental, spiritual dan fisiknya sendiri
• Perawat juga tidak boleh mengabaikan kemampuannya sendiri untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik

PERAN PERAWAT PEDIATRIK
• Hubungan terapeutik
Diterapkan dalam berkomunikasi dengan anak dan keluarga, bersifat empati dan professional dengan memisahkan peran perawat dari keluarga tanpa mengganggu kenyamanan anak dan keluarga

• Family advocacy/caring
Advokasi meliputi jaminan bahwa keluarga akan mengetahui yankes yang tersedia, diinformasikan tentang prosedur dan pengobatannya secara benar. Caring berarti memberikan yankes secara langsung pada anak.

• Disease prevention/Health promotion
Melakukan dan mengajarkan keluarga tentang bagaimana cara mencegah penyakit baik dari luar maupun dari dalam tubuh.

• Health education
Memberikan pendidikan kesehatan yang bertujuan membantu orangtua dan anak memahami suatu pengobatan medis, mengevaluasi pengetahuan anak tentang kesehatan mereka, memberi pedoman antisipasi

• Support/counseling
Memberikan perhatian pada kebutuhan emosi melalui dukungan dan konseling. Dukungan diberikan dengan mendengar, menyentuh dan kehadiran fisik untuk memudahkan komunikasi nonverbal. Sedangkan, konseling dalam bentuk pertukaran pendapat, melibatkan dukungan, penyuluhan teknik untuk membantu keluarga mengatasi stress dan mendorong ekspresi perasaan dan pikiran. Yang membantu keluarga mengatasi stress dan memampukan untuk mendapatkan tingkat fungsi yang lebih tinggi.

• Pengambil keputusan etis
Prinsipnya, tindakan yang ditentukan adalah yang paling menguntungkan klien, dan sedikit bahayanya terhadap segala aspek yang berhubungan denagn pelaksanaan asuhan keperawatan. Seperti dalam kerangka kerja mesyarakat, standar praktik professional, hukum, aturan lembaga, tradisi religius, sistem nilai keluarga dan nilai pribadi perawat.

• Coordination/Collaboration
bekerjasama dengan spesialis / profesi lain dalam mengatasi kesehatan anak.

• Peran restoratif
Keterlibatan perawat secara langsung dalam aktivitas pemberi asuhan yang dilakukan atas daar konsep teori yang berfokus pada pengkajian dan evaluasi status yang berkesinambungan. Perawat punya tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap tindakannya.

• Research
melakukan praktik berasarkan penelitian, menerapkan metode inovatif dalam memberikan intervensi pada anak, melakukannya berdasarkan penelitian dan sesuai rasional.

• Health care planning
menggunakan perencanaan & metode yang tepat untuk perawatan anak. Perawat melibatkan penyediaan layanan yang baru, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan

• Trend masa depan
Ada beberapa hal yang dituntut :

• Pengobatan penyakit (kuratif) menjadi promosi kesehatan (promotif)

• Filosofi asuhan berpusat pada keluarga bukan pilihan melainkan kewajiban

• Perawat dituntut meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan, komputer, membuktikan keunikan peran
mereka dan dituntut lebih mandiri dan melebihi lingkungan asuhan terdahulu.

BERPIKIR KRITIS
Berpikir kritis adalah suatu proses berpikir sistematik yang penting bagi seseorang perawatt professional.berpikir kritis akan membatu professional dalm memenuhi kebutuhan klien.Berpikir kritis adalah berpikir dengan tujuan dan mengarah-arahkan yang membatu indivudu membuat penilaian berdasarkan data bukan perkiraan.Berpikir kritis berdasarkan metode penyelidikan ilmiah yang juga menjadi akar dalam mengambil keputusan

PROSES KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
Proses yang berkesinambungan, diterapkan di seluruh tahap penyelesaian masalah.
Dasar pengambilan keputusan.
Terdiri dari pengumpulan, pengelompokan, dan analisis data.
Dilakukan secara menyeluruh (bio-psiko-sosiokultural-spiritual).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Adl keputusan klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses hidup yang aktual maupun potensial (NANDA).
• Perawat menginterpretasi dan membuat keputusan tentang data yang telah dikumpulkan.
• Komponen: PES (problem, etiology, symptom).
• Jenis: aktual, risiko, potensial.

III. PERENCANAAN
Prinsip:
1. Memahami konsep dan karakterisik tum-bang anak.
2. Memahami hubungan anak dengan pengasuh
3. Melibatkan keluarga
4. Orientasi
5. Menciptakan lingkungan yang kondusif
6. Meminimalkan trauma fisik
7. Universal precaution
8. Membantu keperluan pasien

IV. IMPLEMENTASI
Menerapkan intervensi yang dipilih dan melakukan umpan balik.
• Prinsip:
1. Jangan menawarkan pilihan apakah bersedia dilakukan tindakan atau tidak
2. Beri kesempatan anak memilih tempat dilakukannya tindakan
3. Jangan membohongi anak bahwa tindakan yang akan dilakukan tidak menimbulkan rasa sakit
4. Jelaskan tindakan secara singkat dan sederhana
5. Perkenankan anak untuk mengeluh/menangis jika terasa sakit
6. Jangan berbisik kepada perawat lain atau keluarga di depan anak
7. Berpikir positif dan asertif
8. Waktu tindakan sesingkat mungkin
9. Libatkan keluarga.

V. EVALUASI
Perawat mengumpulkan, mensortir, dan menganalisis data untuk menentukan apakah tujuan tercapai, perlu modifikasi rencana, perlu alternatif.
VI. DOKUMENTASI
Pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, dan evaluasi dilakukan dengan adanya bukti tertulis tentang pencapaian hasil, apakah ada kemajuan dalam proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A Aziz Almull .2005. “Pengatar Ilmu keperawatan Anak jilid 1”. Jakarta: Salemba
Nelson, Waldo E. 2000. “Ilmu Kesehatan Anak volume 1”. Jakarta: EGC
Rochemi, Hemi.NS 2009. “perspektif keperawatan anak”. http://www.scribd.com/doc/14365045/PERSPEKTIF-KEPERAWATAN-ANAK
(on-line/ diakses tanggal 11 Februari 2010)
Supartini,Yeni. 2004. “Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak 1”. Jakarta: EGC
Wong, Donna L. 2008. “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik”. Jakarta: EGC

2 komentar:

Anonim mengatakan...

he style has lived much longer than its Abercrombie clothing counterparts from the 1980s; it may be because of its relatively abercrombie Jeans inoffensive style or because people just love Abercrombie Pants animals, but it's less frowned upon.Today you can find high quality blanket and sheet Abercrombie Tees sets in a cheetah print. These are common enough that you could even go to a department store and find them, Abercrombie Shorts so you should have no problem finding cheetah printed sheets and blankets if they are what you are looking for. These can be a great accent to a more contemporary home theme Abercrombie Sweaters , though obviously are not great for homes that are more conservatively or classically decorated. Curtains that have this type of pattern are more difficult to come by.

Tirta mengatakan...

thx k3 sangat membantu saya....kunjungi blogsaya juga ya http://nurse-carewithlove.blogspot.com/